Rupiah Melemah 0,83% Sepekan ke Rp17.758, Tekanan Berlanjut Tujuh Sesi

Penulis: Syaiful Bahri  •  Sabtu, 19 September 2026 | 15:20:02 WIB

LAMPUNG — Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis 5 poin ke level Rp17.758 per dolar AS pada perdagangan Jumat (18/9/2026), memperpanjang tren pelemahan menjadi tujuh sesi berturut-turut. Secara mingguan, mata uang Garuda terdepresiasi 0,83% dibandingkan posisi penutupan Jumat (11/9/2026) di Rp17.611 per dolar AS.

Data Bloomberg menunjukkan pergerakan rupiah sepanjang pekan ini masih berada dalam tekanan. Pelemahan terjadi di tengah beragam sentimen eksternal dan domestik yang belum memberi ruang penguatan bagi mata uang Garuda.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat posisi Rp17.745 per dolar AS pada Jumat (18/9/2026), naik 8 poin dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.753 per dolar AS. Meski menguat tipis secara harian, JISDOR masih melemah sekitar 0,76% secara mingguan dari posisi Rp17.611 per dolar AS pada Jumat pekan sebelumnya.

Tujuh Sesi Berturut-turut di Zona Merah

Pelemahan rupiah sepanjang pekan ini menandai sesi ketujuh berturut-turut sejak awal tren tekanan. Pergerakan harian cenderung tipis, dengan perubahan hanya 5 poin atau 0,03% pada penutupan terakhir, namun akumulasi sepekan mencapai 0,83%.

Selisih antara kurs spot Bloomberg dan JISDOR juga menipis. Pada penutupan Jumat, spot berada di Rp17.758 sementara JISDOR di Rp17.745, mencerminkan tekanan yang merata di pasar spot maupun referensi antarbank.

Geopolitik dan El Nino Jadi Pemicu

Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Ketegangan geopolitik global masih membayangi arus modal ke pasar negara berkembang, sementara isu El Nino menambah kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik.

Kedua faktor tersebut memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah. Investor cenderung menahan diri menempatkan dana di aset berisiko selama ketidakpastian belum mereda.

Dampak ke Pelaku Pasar dan Importir

Pelemahan rupiah yang berlanjut memberi tekanan langsung bagi importir yang harus membayar lebih mahal untuk kebutuhan bahan baku dalam dolar AS. Beban ini berpotensi merambat ke biaya produksi dan harga jual barang di pasar domestik.

Bagi investor asing, depresiasi mata uang mengurangi imbal hasil riil dari portofolio obligasi dan saham berdenominasi rupiah. Situasi ini bisa memicu arus keluar modal jika pelemahan berlanjut dalam jangka panjang.

Bank Indonesia memiliki ruang untuk melakukan intervensi di pasar valas guna menstabilkan kurs. Namun, efektivitas langkah tersebut bergantung pada besarnya tekanan eksternal yang masih berlangsung.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top