LAMPUNG TIMUR — Kepala Kantor Kemenag Lampung Timur, Marwansyah, menegaskan bahwa Ekoteologi harus menjadi budaya di setiap madrasah, bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia menyebut menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan wujud tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
"Nilai-nilai ini perlu ditanamkan kepada peserta didik sejak dini agar tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap lingkungan," ujar Marwansyah dalam arahannya di hadapan kepala madrasah, pengawas, dan tenaga pendidik.
Marwansyah mendorong seluruh kepala madrasah dan guru untuk menjadikan satuan pendidikan masing-masing sebagai contoh. Caranya melalui pembiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan, mengurangi sampah plastik, melakukan penghijauan, hingga mengintegrasikan nilai kepedulian lingkungan dalam proses pembelajaran.
Menurut dia, keberhasilan program ini tidak diukur dari seberapa banyak pohon ditanam, melainkan dari perubahan perilaku warga madrasah secara berkelanjutan. "Ekoteologi harus menjadi budaya," tegasnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Asta Protas Kementerian Agama Tahun 2026. Kasi Pendidikan Madrasah, Latif Khairin Bahri, menyebut penguatan ini bertujuan agar setiap satuan pendidikan mampu mengintegrasikan nilai-nilai Ekoteologi ke dalam budaya madrasah.
Hasilnya, tercipta lingkungan belajar yang bersih, sehat, hijau, dan nyaman. Kegiatan di MIN 2 Lampung Timur itu dihadiri pula oleh Kasubbag Tata Usaha Nursalim, Kepala MIN 2 Rosida, Ketua Pokjawas Ma'ruf Abidin, serta jajaran guru madrasah se-Kabupaten Lampung Timur.
Melalui penguatan ini, Kemenag Lampung Timur berharap seluruh madrasah berkomitmen menjadi pelopor pembentukan karakter peserta didik. Targetnya, siswa tidak hanya unggul secara akademik dan spiritual, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan.
"Semangat Ekoteologi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan," pungkas Marwansyah.