JAKARTA — Lampung resmi menjadi prioritas utama program hilirisasi singkong nasional yang digenjot Kementerian Perindustrian. Langkah ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan daya saing industri pangan dalam negeri.
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menggelar kegiatan Penguatan Hilirisasi Berbasis Agro dan Peningkatan Daya Saing IKM Pangan Lampung. Program ini membangun ekosistem hilirisasi terintegrasi dari hulu ke hilir sekaligus memperkuat industri pangan lokal.
Pemerintah menerbitkan sejumlah kebijakan strategis untuk memastikan hilirisasi berjalan optimal. Kebijakan tersebut mencakup penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan persetujuan impor berbasis pertimbangan teknis.
"Hilirisasi dan penganekaragaman pangan bukan dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya saling melengkapi untuk mewujudkan industri pangan nasional yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan," ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Faisol menambahkan, regulasi yang baik harus diikuti peningkatan kapasitas industri. Kemampuan pelaku usaha memanfaatkan teknologi produksi modern menjadi kunci daya saing industri pangan nasional.
Pemerintah Provinsi Lampung telah menerbitkan regulasi khusus hilirisasi ubi kayu untuk mendorong kemitraan antara petani dan pengusaha. Faisol mengapresiasi langkah tersebut dan mendorong implementasinya hingga tingkat kabupaten dan kota.
"Lampung merupakan sentra singkong terbesar nasional. Sinergi pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan penting agar hilirisasi menguntungkan petani serta industri," kata Faisol.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyatakan, kegiatan ini menjadi momentum sosialisasi Program Dana Alokasi Khusus (DAK). Selain itu, terbuka peluang kemitraan antara IKM dengan industri lanjutan untuk memperkuat rantai pasok.
"Kami memanfaatkan momentum ini untuk menyosialisasikan Program DAK. Sekaligus membuka peluang kemitraan antara IKM dengan industri lanjutan agar tercipta rantai pasok yang semakin kuat," ujar Reni.
Kementerian Perindustrian menggandeng Kementerian PPN/Bappenas, AROBIM, dan PT Thai Wah Indonesia sebagai mitra strategis. Kehadiran industri besar memberikan gambaran langsung mengenai kebutuhan pasar, standar mutu, teknologi pengolahan, dan tata kelola rantai pasok.
"Dengan demikian, IKM dapat meningkatkan kualitas produknya agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional," kata Reni.
Hilirisasi diharapkan menyerap hasil panen petani dengan harga lebih stabil. Selama ini, petani singkong kerap menghadapi fluktuasi harga akibat ketergantungan pada industri tepung tapioka dan ekspor chip singkong mentah.
Dengan ekosistem hilirisasi yang terintegrasi, petani dapat memasok bahan baku ke industri pengolahan bernilai tambah tinggi seperti bioetanol, bioplastik, dekstrin, dan pangan olahan lainnya. Rantai pasok yang kuat juga meminimalkan kerugian pasca-panen.
Implementasi kebijakan hingga tingkat kabupaten dan kota menjadi kunci agar manfaat hilirisasi tidak hanya dinikmati pengusaha besar, tetapi juga petani dan IKM lokal di Lampung.