KOTABUMI — Telepon genggam R.A. Habibi sudah berdering sebelum fajar. Satu per satu pesan masuk: perubahan jadwal, konfirmasi tamu, hingga laporan teknis panggung yang belum rampung. Bagi Habibi, yang menjabat sebagai Kepala Bagian (Kabag) Protokol Setdakab Lampung Utara, ritme ini sudah menjadi makanan sehari-hari.
Banyak orang mengira tugas protokol hanya sebatas mengatur tempat duduk pejabat atau menyusun susunan acara. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah, namun hanya memperlihatkan ujung dari gunung es pekerjaan.
Semua koordinasi berpusat dari sebuah ruang kerja sederhana berukuran 3 x 6 meter. Di ruangan itulah jadwal disusun, koordinasi dilakukan, dan berbagai skenario cadangan dipersiapkan dengan penuh ketelitian.
“Di ruangan itulah R.A. Habibi bersama tim Protokol memastikan setiap mata rantai pekerjaan berjalan tanpa cela,” tulis Rilis.id dalam laporannya.
Publik biasanya hanya melihat hasil akhir: acara berlangsung tertib, Bupati dan Wakil Bupati hadir tepat waktu, dan tamu duduk di tempat yang sesuai. Namun, rangkaian panjang di belakang layar—mulai dari konfirmasi berulang, pengecekan teknis, hingga antisipasi perubahan mendadak—jarang mendapat sorotan.
Tim protokol bekerja dalam diam. Mereka adalah bagian dari mesin pemerintahan yang memastikan setiap agenda resmi berjalan tanpa hambatan, meski harus mengorbankan waktu istirahat di pagi buta.
Bagi Habibi dan timnya, kepuasan bukan datang dari tepuk tangan atau pujian. “Kerja dalam diam, pengabdian tanpa tepuk tangan” bukan sekadar slogan, melainkan gambaran nyata keseharian mereka di Kabupaten Lampung Utara. Setiap agenda yang sukses adalah bukti bahwa koordinasi panjang di ruang 3x6 meter itu telah berbuah hasil.