Kaprodi Magister Manajemen IIB Darmajaya, Dr. Anggalia Wibasuri, S.Kom., M.M., menegaskan bahwa pemasaran pariwisata modern harus menghadirkan nilai emosional. “Karyawan, mitra, dan masyarakat lokal adalah bagian dari ekosistem pemasaran yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Menurut Anggalia, pengalaman bermakna menjadi kunci loyalitas wisatawan di era kompetitif. Generasi muda kini mencari destinasi estetik dan pengalaman unik yang bisa dibagikan di media sosial. Hal ini menuntut inovasi berkelanjutan dalam pengemasan produk wisata.
Prof. Dr. Anuar Sanusi, S.E., M.Si., yang turut menulis buku tersebut, menambahkan bahwa strategi pemasaran harus berorientasi pada konsumen. Menurutnya, pemasaran berbasis pengalaman kini menjadi tren utama industri pariwisata global.
“Wisatawan membeli cerita, bukan sekadar layanan,” kata Prof. Anuar. Ia juga menyoroti pentingnya relationship marketing untuk membangun loyalitas. “Kepercayaan dan kepuasan lebih berharga daripada transaksi sesaat,” ujarnya. Saat daya beli menurun, Prof. Anuar menilai destinasi harus menawarkan paket hemat tanpa mengurangi kualitas.
Dosen Prodi Manajemen IIB Darmajaya, Lukman Hakim, S.P., M.M., menekankan integrasi teknologi dalam pemasaran. “Online booking, virtual tour, dan pembayaran digital memperluas jangkauan destinasi,” jelasnya. Menurut Humas Yayasan Alfian Husin itu, teknologi adalah jembatan antara penyedia layanan dan wisatawan.
Lukman juga menyoroti kualitas sumber daya manusia sebagai faktor penentu. “Pemandu yang ramah dan staf hotel yang tanggap adalah wajah destinasi,” ujarnya. Senada, Nia Lefiani, S.E., M.M., dosen Prodi Pariwisata IIB Darmajaya, menambahkan bahwa investasi pada pelatihan SDM adalah strategi yang tidak bisa ditawar.
Dosen Prodi Pariwisata IIB Darmajaya, Nia Lefiani, menyoroti bahwa politik dan regulasi hukum turut memengaruhi industri. “Izin usaha dan kebijakan pemerintah adalah faktor eksternal yang harus diantisipasi,” katanya.
Moneta Nauli, S.E., M.M., salah satu penulis buku, menilai adaptasi terhadap regulasi menjadi strategi keberlanjutan destinasi. “Adaptasi terhadap regulasi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan strategi penting untuk memastikan keberlanjutan destinasi pariwisata,” kata Moneta.
Buku Pemasaran Pariwisata Terpadu dengan ISBN 978-623-586-770-0 ini menguraikan konsep pemasaran modern, strategi digital, hingga inovasi pengemasan produk wisata. Karya ini diharapkan menjadi referensi untuk membangun destinasi pariwisata Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan. (**)