LAMPUNG — Apple akhirnya mendapatkan lampu hijau dari regulator China untuk menghadirkan Apple Intelligence, platform generative AI miliknya, di kawasan Tiongkok. Keputusan ini diumumkan oleh Reuters, Rabu (19/2/2025), setelah Apple menjalin kemitraan strategis dengan Alibaba untuk mengintegrasikan model Qwen ke dalam sistem operasi iOS, iPadOS, macOS, dan visionOS.
Regulasi China mewajibkan setiap layanan AI asing untuk bekerja sama dengan perusahaan teknologi lokal yang sudah memiliki izin operasi. Sebelum menjatuhkan pilihan pada Alibaba, Apple sempat menjajaki kerja sama dengan Baidu, namun terkendala adaptasi model terhadap kebutuhan pengguna China. Raksasa Cupertino itu juga disebut-sebut sempat berdiskusi dengan DeepSeek dan ByteDance sebelum akhirnya memilih Qwen dari Alibaba.
Kemitraan ini bukan tanpa alasan. Alibaba mengonfirmasi kepada CNBC bahwa Qwen akan diintegrasikan ke dalam pengalaman Apple Intelligence, mencakup kemampuan memahami teks, mengenali gambar, hingga menghasilkan konten. Namun, perusahaan belum memberikan jadwal pasti kapan fitur-fitur ini mulai bergulir ke perangkat pengguna.
Kabar ini langsung disambut positif pasar. Saham Alibaba di bursa AS tercatat naik 4 persen pada perdagangan pra-pasar, dan terus menguat hingga lebih dari 6 persen saat berita ini ditulis. Lonjakan ini mencerminkan optimisme investor terhadap potensi pendapatan dari ekosistem Apple yang sangat besar di China.
Persetujuan Apple Intelligence datang di saat yang tepat bagi Apple. Pada kuartal kedua tahun fiskal 2025, penjualan Apple di kawasan Greater China melonjak 28 persen menjadi 20,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 338 triliun). Apple juga baru saja merebut kembali posisi nomor dua di pasar smartphone China setelah gelaran festival belanja yang memberikan diskon besar-besaran untuk lini iPhone.
Dengan hadirnya Apple Intelligence yang didukung Qwen, Apple berharap bisa menawarkan fitur AI yang relevan secara lokal, seperti asisten suara yang lebih pintar, pengeditan foto berbasis perintah teks, dan ringkasan notifikasi cerdas. Fitur-fitur ini sebelumnya sudah tersedia di pasar AS dan Eropa sejak peluncuran Apple Intelligence pada 2024.
Langkah Apple menggandeng Alibaba menunjukkan bahwa strategi AI perusahaan tidak bisa seragam di semua negara. Kepatuhan terhadap regulasi lokal, terutama di China, memaksa Apple untuk beradaptasi dengan mitra teknologi setempat. Bagi pengguna di Indonesia, belum ada kepastian kapan Apple Intelligence akan hadir, mengingat regulasi AI di dalam negeri masih dalam tahap pembahasan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital.
Yang jelas, kolaborasi Apple dan Alibaba menjadi tolok ukur bagaimana raksasa teknologi global menavigasi aturan ketat tanpa mengorbankan pengalaman pengguna. Kita tunggu saja apakah langkah serupa akan diterapkan di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.