Sebelum jadi provinsi yang kita kenal sekarang, Lampung adalah wilayah yang namanya sudah tercatat di prasasti-prasasti kuno. Prasasti Palas Pasemah dari abad ke-7 M misalnya, menyebut daerah ini sebagai bagian dari pengaruh Kerajaan Sriwijaya. Bukan sekadar daerah pinggiran, Lampung—khususnya daerah pesisir seperti Bakauheni dan Kalianda—menjadi jalur perdagangan strategis yang menghubungkan Jawa dan Sumatera. Kapal-kapal dari India dan Tiongkok singgah di sini, membawa pengaruh budaya dan agama yang mengendap hingga sekarang.
Setelah Sriwijaya runtuh, pengaruh Kerajaan Majapahit masuk. Masa inilah yang kemudian melahirkan struktur masyarakat adat Lampung yang dikenal dengan sistem marga dan pepadun. Sistem ini masih terasa hingga kini di berbagai upacara adat, terutama di daerah pedalaman seperti Way Kanan dan Lampung Barat. Namun, perubahan besar baru benar-benar terjadi ketika kolonial Belanda menginjakkan kaki di sini.
Belanda tidak butuh waktu lama untuk menyadari potensi Lampung. Di bawah sistem tanam paksa, daerah ini dipaksa menjadi perkebunan kopi dan lada yang masif. Pelabuhan Panjang dan Telukbetung (kini pusat Kota Bandar Lampung) dibangun sebagai pusat logistik komoditas. Namun, dampak sosialnya brutal. Banyak penduduk lokal dipaksa kerja rodi, dan sebagian melarikan diri ke hutan untuk menghindari pajak dan kerja paksa.
Kolonisasi yang paling berdampak jangka panjang justru dimulai awal abad ke-20. Pemerintah kolonial meluncurkan program kolonisasi—cikal bakal transmigrasi—memindahkan ribuan petani dari Jawa yang padat penduduk ke Lampung. Daerah seperti Metro, Sukadana, dan Pringsewu adalah hasil langsung dari kebijakan ini. Inilah yang membuat Lampung unik: percampuran budaya Jawa dan Lampung yang membentuk dialek dan tradisi kuliner khas setempat.
Setelah proklamasi 1945, Lampung masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Baru pada 18 Maret 1964, melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964, Lampung resmi menjadi provinsi ke-8 di Sumatera. Ibu kotanya ditetapkan di Tanjungkarang-Telukbetung, dua kota yang kini menyatu menjadi Bandar Lampung. Momen ini bukan sekadar administratif; ia mengukuhkan identitas Lampung sebagai entitas politik dan budaya yang mandiri.
Di masa Orde Baru, Lampung menjadi salah satu tujuan utama transmigrasi nasional. Lahan-lahan di Lampung Tengah dan Lampung Timur dibuka besar-besaran untuk persawahan dan perkebunan kelapa sawit. Pertumbuhan penduduk melonjak drastis, dan kota-kota seperti Bandar Lampung dan Metro tumbuh pesat. Namun, ledakan penduduk ini juga memicu masalah baru: konflik lahan dan degradasi hutan di kawasan Bukit Barisan Selatan.
Saat ini, Lampung memegang peran vital bagi Indonesia. Pelabuhan Bakauheni di selatan dan Pelabuhan Panjang di barat adalah simpul utama jalur distribusi barang antara Jawa dan Sumatera. Setiap hari, ribuan truk dan kendaraan pribadi menyeberang melalui Selat Sunda. Pemerintah pusat pun terus menggenjot pembangunan infrastruktur, termasuk Jalan Tol Trans Sumatera yang menghubungkan Bakauheni hingga Lampung Utara.
Dari sisi ekonomi, Lampung adalah produsen utama kopi robusta, lada, dan singkong nasional. Daerah Tanggamus dan Lampung Barat dikenal dengan perkebunan kopi yang menghasilkan biji berkualitas ekspor. Sementara itu, sektor wisata mulai bergerak. Destinasi seperti Pantai Tanjung Setia di Pesisir Barat—salah satu spot surfing kelas dunia—dan Taman Nasional Way Kambas yang terkenal dengan gajah sumateranya, mulai dilirik wisatawan mancanegara.
Meskipun bertumbuh, Lampung menghadapi persoalan klasik. Banjir rob di pesisir Bandar Lampung dan abrasi di Pantai Kalianda masih jadi pekerjaan rumah. Alih fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan sawit juga terus mengancam habitat satwa liar, termasuk harimau sumatera yang masih tercatat berkeliaran di kawasan Register 40. Belum lagi kemacetan parah di Pelabuhan Bakauheni saat musim mudik Lebaran—pemandangan tahunan yang selalu menguji kesabaran pemudik.
Namun, optimisme tetap ada. Generasi muda Lampung mulai aktif mengangkat kembali budaya lokal melalui musik, tari, dan kuliner. Festival Krakatau yang digelar setiap tahun di Bandar Lampung menjadi ajang promosi budaya dan pariwisata. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan letak geografis yang strategis, Lampung masih punya modal besar untuk melompat lebih tinggi.
Apa arti nama Lampung?
Ada beberapa versi. Versi paling populer berasal dari kata Lampung dalam bahasa setempat yang berarti "dalam" atau "air yang tenang", merujuk pada kondisi geografis pesisir yang berawa-rawa. Versi lain menyebutkan nama ini berasal dari kata Anjak Lampung yang berarti "tanah yang tinggi".
Kapan Lampung resmi menjadi provinsi?
18 Maret 1964. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Lampung setiap tahunnya.
Apa suku asli Lampung?
Suku Lampung terbagi dalam dua rumpun utama: Lampung Pepadun (di pedalaman) dan Lampung Saibatin/Pesisir (di pesisir). Masing-masing punya struktur adat dan dialek yang berbeda.
Mengapa banyak orang Jawa di Lampung?
Karena program kolonisasi Belanda dan transmigrasi era Orde Baru. Sejak awal abad ke-20, ribuan petani Jawa dipindahkan ke Lampung untuk mengolah lahan pertanian.
Apa makanan khas Lampung yang terkenal?
Seruit—ikan bakar atau goreng yang disajikan dengan sambal tempoyak (fermentasi durian) dan lalapan. Jangan lupa keripik pisang dan kopi robusta Lampung yang punya cita rasa kuat.
Melihat ke belakang, Lampung adalah provinsi yang dibentuk oleh gelombang migrasi, eksploitasi kolonial, dan semangat kemerdekaan. Kini, di tengah hiruk-pikuk pembangunan, ia tetap menyimpan cerita-cerita yang belum selesai ditulis. Baik sebagai tempat singgah maupun tujuan, Lampung selalu punya lapisan baru untuk dijelajahi.