KOTABUMI — Prosesi adat berlangsung di kediaman Suttan Rajo Putra Negara, Ansori Sabak, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh adat serta pejabat daerah. Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, menegaskan bahwa Angkon Muakhi bukan sekadar seremoni, melainkan ikatan moral yang mengikat penerima gelar untuk menjaga nama baik keluarga besar adat.
Menurut Bupati Hamartoni, pemberian gelar kepada Pangdam menjadi bukti bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan pemersatu masyarakat Lampung. “Beliau adalah putra Lampung Utara yang lahir dari keberagaman. Dengan prosesi ini, beliau resmi menjadi bagian dari masyarakat adat Lampung Utara, khususnya Abung Siwo Migo,” ujarnya.
Kristomei Sianturi mengaku sangat bersyukur dan terharu atas kepercayaan yang diberikan masyarakat adat. Ia menilai prosesi ini memiliki makna mendalam karena semakin menguatkan ikatan emosionalnya dengan tanah kelahiran. “Saya merasa seutuhnya menjadi orang Lampung, khususnya orang Lampung Utara. Kotabumi adalah kota yang sangat saya cintai, tempat saya dilahirkan dan tempat orang tua saya dimakamkan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, jenderal bintang dua tersebut menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mendorong kemajuan Lampung Utara. Ia ingin daerah itu kembali menjadi wilayah yang maju dan berdaya saing.
“Penganugerahan gelar Pangeran Satria Negara ini akan menjadi simbol persatuan dalam keberagaman sekaligus mempererat hubungan antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat adat dalam membangun Bumi Ragem Tunas Lampung,” tegas Kristomei.