BANDAR LAMPUNG — Kondisi ekonomi petani di Lampung yang terus membaik mulai mengubah angka partisipasi pendidikan tinggi di provinsi tersebut. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut peningkatan pendapatan dari sektor pertanian menjadi faktor utama yang mendorong orang tua untuk menyekolahkan anak hingga ke bangku kuliah.
“Selama ini rendahnya partisipasi pendidikan tinggi bukan semata-mata soal biaya, tapi juga masalah sosial yang berakar dari kondisi keluarga,” ujar Mirza dalam pernyataan yang dikutip baru-baru ini.
Menurut Mirza, Lampung selama bertahun-tahun menghadapi masalah struktural di sektor pendidikan. Setiap tahun tercatat sekitar 8.000 kasus perceraian di keluarga Tenaga Kerja Wanita (TKW). Kondisi itu memicu tingginya angka putus sekolah yang mencapai sekitar 20 ribu anak.
“Banyak anak kehilangan motivasi belajar karena ditinggal orang tuanya, terutama ibu yang bekerja ke luar negeri sejak anak masih SD atau SMP,” jelasnya. Akibatnya, Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Lampung masih berada di peringkat ke-35 nasional.
Namun, situasi mulai berbalik seiring membaiknya harga komoditas pertanian. Mirza mencontohkan keuntungan petani gabah yang sebelumnya sekitar Rp2.400 per kilogram kini meningkat menjadi sekitar Rp4.000 per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi pada jagung dan singkong.
Dampak peningkatan pendapatan itu langsung terlihat pada daya beli masyarakat. Pada semester pertama 2026, penjualan sepeda motor di Kabupaten Mesuji meningkat 42 persen, Tulangbawang Barat naik 38 persen, dan Lampung Tengah bertambah 30 persen. Di Tulangbawang Barat, pembelian mobil baru bahkan melonjak hingga 86 persen.
Membaiknya kondisi ekonomi petani mulai tercermin di dunia kampus. Mirza menyebut sejumlah perguruan tinggi di Lampung mencatat kenaikan signifikan jumlah mahasiswa baru. Universitas Bandar Lampung (UBL) mencatat peningkatan pendaftaran sekitar 20 persen, sementara Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya naik lebih dari 60 persen. Peningkatan juga terjadi di Universitas Saburai dan IAIN.
“Kondisi ekonomi yang semakin baik membuat para petani kini mampu membiayai pendidikan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi,” kata Mirza.
Pemerintah Provinsi Lampung pun mendorong agar tren positif ini terus berlanjut. Stabilitas harga komoditas dan penguatan sektor pertanian dinilai menjadi kunci untuk memperbaiki indeks pembangunan manusia di daerah, terutama dari sisi pendidikan.