LAMPUNG — Gelandang Real Madrid dan Timnas Inggris, Jude Bellingham, kembali menjadi sorotan usai penampilannya di Piala Dunia 2026. Ia mencetak empat gol dalam lima pertandingan, termasuk dua gol saat Inggris mengalahkan Meksiko di babak 16 besar. Namun yang membuatnya berbeda bukan sekadar angka, melainkan cara ia menikmati tekanan dan permusuhan penonton lawan.
Debutnya di Birmingham City pada usia 16 tahun langsung membuat klub memensiunkan nomor punggungnya. Ia lalu bersinar di Borussia Dortmund sebelum pindah ke Real Madrid dan menjadi juara Eropa. Di Piala Dunia sebelumnya, ia tampil impresif dengan gol ke gawang Iran saat debut turnamen.
Namun konsistensi kerap menjadi masalah. Di Euro 2024, Bellingham sempat tampil brilian dengan gol sundulan ke gawang Serbia, tapi performanya menurun drastis di laga-laga berikutnya. Momen penyelamatnya datang saat Inggris hampir tersingkir oleh Slovakia—sebuah overhead kick yang hanya bisa dilakukan pemain dengan keyakinan diri setinggi langit.
Bellingham sering dianggap arogan. Ia kerap terlibat argumen dengan wasit, frustrasi saat timnya tertinggal, dan tak ragu menunjukkan emosi di lapangan. Komentar pedas Thomas Tuchel yang menyebut sikapnya "repulsive" sempat memicu krisis citra. Namun menurut sumber internal, Bellingham justru sosok rendah hati saat bertemu penggemar muda dan dihormati rekan setimnya.
“Ego adalah bagian dari apa yang membuatnya berbeda dan spesial,” tulis analis olahraga dalam laporan terbaru. “Itu tidak membuatnya menjadi orang jahat atau rekan setim yang buruk.”
Perbandingan paling akurat untuk Bellingham bukanlah Wayne Rooney atau Paul Scholes, melainkan Novak Djokovic. Keduanya bisa tersenyum dan memikat publik, tapi berubah menjadi villain yang menakutkan saat menghadapi perlawanan. Saat Inggris tertinggal 1-0 dari Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar, Bellingham nyaris meledak. Ia tidak kenal stoisisme.
“Dia patriot besar yang terkesan tidak terlalu Inggris dalam cara dia ingin menang,” tulis laporan tersebut. “Semakin besar tekanan, semakin besar api di dalam dirinya.”
Bellingham memiliki ambisi besar di luar lapangan. Ia ingin menjadi aktor James Bond setelah pensiun—dan dengan pencapaiannya saat ini, pernyataan itu tak terdengar konyol. Ia punya ketampanan ala David Beckham, karisma seperti bintang film, dan kemampuan taktis yang tajam saat diwawancara setelah pertandingan Liga Champions.
Namun ia tetap sulit didekati media cetak arus utama. Sebagian besar kariernya dihabiskan di luar Inggris, membuatnya terasa asing bagi publik tanah air. Tapi satu hal pasti: Jude Bellingham bukan pemain biasa. Ia adalah fenomena yang dunianya lebih besar dari yang bisa dipahami kebanyakan orang.