LAMPUNG — Mensesneg Prasetyo Hadi buka suara terkait desakan BEM SI Jawa Tengah yang melayangkan ultimatum "Reformasi Jilid II". Ia menyatakan pemerintah pusat terus bekerja keras untuk memperbaiki kondisi ekonomi nasional, termasuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
"Pemerintah terus bekerja keras memperbaiki ekonomi," ujar Prasetyo Hadi dalam pernyataan resminya, kemarin.
BEM SI Jawa Tengah sebelumnya menyampaikan sikap keras mereka. Dalam demonstrasi yang digelar pekan lalu, mereka mendesak Presiden segera mengeluarkan kebijakan darurat untuk menahan laju pelemahan rupiah. Nilai tukar yang terus tertekan dinilai telah memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan menggerus daya beli masyarakat.
Mereka menuntut langkah nyata, bukan sekadar pernyataan normatif. "Kami tidak ingin mendengar lagi janji. Ini soal nyawa ekonomi rakyat," demikian salah satu orasi yang disampaikan dalam aksi tersebut.
Prasetyo Hadi tidak merinci langkah-langkah spesifik yang tengah dijalankan. Namun, ia memastikan koordinasi antar kementerian terkait, termasuk Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, terus berjalan.
"Semua instrumen yang ada sedang dioptimalkan," katanya.
Pemerintah, lanjut dia, tetap optimistis fundamental ekonomi nasional masih kuat. Ia merujuk pada data pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisa yang dinilai masih dalam batas aman. Namun, ia mengakui tekanan eksternal, seperti kenaikan suku bunga global dan ketidakpastian pasar keuangan, menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Di sisi lain, kalangan pengusaha dan ekonom menilai respons pemerintah masih terlalu umum. Mereka berharap ada kebijakan terukur, seperti intervensi ganda di pasar valas dan obligasi, atau percepatan hilirisasi untuk memperkuat ekspor. Tanpa itu, tekanan terhadap rupiah diprediksi masih akan berlanjut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan konkret yang diumumkan pemerintah pasca-ultimatum BEM SI. Masyarakat dan mahasiswa pun masih menanti realisasi dari janji "terus bekerja keras" yang disampaikan Istana.