BANDAR LAMPUNG — Sebanyak 20.534 anak di Provinsi Lampung tercatat putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan. Data ini merupakan hasil verifikasi resmi dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) yang diolah Disdikbud Lampung.
Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico, menyebut angka tersebut tersebar di tiga jenjang pendidikan. Rinciannya, 5.081 siswa putus sekolah di tingkat SD, 10.531 siswa di tingkat SMP, dan 4.742 siswa di tingkat SMA.
Thomas menegaskan bahwa tingginya angka putus sekolah di Lampung tidak disebabkan oleh minimnya infrastruktur atau daya tampung sekolah. Menurutnya, kapasitas sekolah negeri dan swasta di Lampung masih sangat mencukupi untuk menampung anak-anak usia sekolah.
"Daya tampung gabungan antara sekolah negeri dan swasta di Lampung sebenarnya sudah sangat mencukupi, bahkan banyak sekolah swasta yang kekurangan murid," jelas Thomas Amirico dikutip dari Kompas.com, Selasa (2/6/2026).
Hasil evaluasi di lapangan menunjukkan bahwa persoalan utama justru berasal dari faktor nonteknis. Thomas menyebut sejumlah faktor seperti kondisi ekonomi keluarga yang lemah, persoalan budaya, kenakalan remaja, hingga pengaruh lingkungan sekitar menjadi penyebab anak-anak berhenti sekolah.
Disdikbud Lampung juga menemukan adanya ketimpangan angka kelanjutan sekolah antarwilayah. Kota Bandar Lampung, Pringsewu, dan Metro mencatat angka kelanjutan sekolah yang relatif tinggi. Sebaliknya, sejumlah wilayah seperti Mesuji, Pesawaran, Tanggamus, Lampung Utara, Way Kanan, dan Pesisir Barat memiliki angka kelanjutan sekolah yang masih rendah.
Thomas menambahkan, kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan berbeda di setiap wilayah. Daerah dengan angka kelanjutan rendah membutuhkan intervensi yang lebih kuat agar anak-anak kembali mendapat akses pendidikan.
Disdikbud Lampung telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan angka putus sekolah. Salah satunya dengan membentuk Tim Percepatan untuk membenahi administrasi data di kabupaten dan kota. Selain itu, peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) diperkuat untuk memperluas program kesetaraan Paket A, B, dan C.
Program unggulan lainnya adalah SMA Terbuka yang direncanakan diluncurkan pada Juli 2026. Program ini dirancang fleksibel dengan sistem pembelajaran daring dan luring di balai desa. SMA Terbuka tidak hanya ditujukan bagi anak usia sekolah, tetapi juga warga berusia di atas 20 tahun yang memiliki keterbatasan waktu karena harus bekerja.
Dari sisi bantuan pendidikan, pemerintah daerah memastikan Program Indonesia Pintar (PIP) dari pemerintah pusat dikawal agar tepat sasaran. Disdikbud Lampung juga akan menguji coba program Kelas Cangkok mulai tahun ajaran baru. Program ini disiapkan untuk membiayai anak-anak berprestasi agar dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi secara gratis.
"Mudah-mudahan ke depan kalau fiskal kita bagus, insya Allah nanti kita akan siapkan beasiswa dan lain-lain untuk bagaimana mendorong anak kita bisa melanjutkan kuliah," imbuh Thomas.