LAMPUNG — Perayaan kemerdekaan tahun ini menjadi momen istimewa bagi sivitas akademika Universitas Gadjah Mada. Di tengah hiruk-pikuk upacara bendera, Waskita Karya secara simbolis menyerahkan gedung perkuliahan terbaru FIB UGM yang diberi nama Gedung Siti Baroroh Baried, seorang profesor filologi terkemuka Indonesia.
Proyek yang digarap sejak 2023 ini bukan sekadar bangunan bertingkat. Waskita Karya mencatatkan penyelesaian konstruksi tepat waktu dengan tingkat akurasi mutu tinggi, sebuah tantangan yang tidak mudah mengingat kompleksitas desain gedung yang mengusung konsep modern tropis.
Gedung berlantai sembilan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan ruang akademik yang semakin berkembang. Tak hanya menyediakan ruang kelas berkapasitas besar, gedung ini juga dilengkapi auditorium, ruang seminar, perpustakaan digital, serta area kolaborasi mahasiswa yang tersebar di tiap lantai.
Bagi mahasiswa FIB, gedung ini mengubah pengalaman belajar. Sebelumnya, banyak perkuliahan harus dibagi dalam shift karena keterbatasan ruang. Kini, dengan tambahan puluhan ruang baru, aktivitas perkuliahan bisa berjalan lebih fleksibel dan nyaman.
Waskita Karya menegaskan komitmennya dalam proyek ini tidak berhenti pada serah terima kunci. BUMN konstruksi pelat merah itu masih berkewajiban menjalankan masa pemeliharaan selama satu tahun ke depan.
Penamaan gedung ini bukan tanpa alasan. Siti Baroroh Baried adalah guru besar pertama FIB UGM yang dikenal luas sebagai pakar filologi dan sastra Arab. Kontribusinya dalam melestarikan naskah-naskah kuno Nusantara menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Pemilihan nama ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan penguatan tradisi keilmuan. Gedung megah ini diharapkan melahirkan pemikir-pemikir baru yang meneruskan jejak sang profesor.
Proyek FIB UGM ini menambah panjang daftar portofolio Waskita Karya di sektor pendidikan. Sebelumnya, BUMN ini telah menyelesaikan sejumlah gedung kampus ternama di Indonesia, termasuk pembangunan fasilitas riset di Institut Teknologi Bandung dan kampus terpadu di sejumlah universitas negeri.
Bagi Waskita, proyek pendidikan memiliki tantangan tersendiri dibandingkan proyek infrastruktur jalan atau bendungan. Jadwal pengerjaan harus mengikuti kalender akademik, sehingga waktu libur semester menjadi momen krusial untuk percepatan konstruksi. Keberhasilan menyelesaikan gedung FIB UGM tepat waktu menjadi bukti kapabilitas perusahaan dalam mengelola proyek dengan spesifikasi teknis tinggi.
Dengan selesainya gedung ini, Waskita Karya berharap dapat terus berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui infrastruktur pendidikan yang mumpuni. Apalagi, pemerintah tengah mendorong pemerataan kualitas pendidikan tinggi di luar Pulau Jawa—sebuah peluang besar bagi BUMN konstruksi untuk ambil bagian.