LAMPUNG — Kampung Tihi-Tihi di Kelurahan Bontang Lestari bukan wilayah tambang, tapi justru di sinilah PAMA dan IMM memilih menanam investasi sosial. Perairannya yang tenang dan kualitas air yang mendukung membuat kawasan ini punya modal alami untuk pengembangan komoditas laut. Pengalaman warga setempat dalam membudidayakan rumput laut menjadi fondasi yang kemudian diperkuat lewat pendampingan usaha.
Project Manager PAMA District Indominco (PAMA INDO), Dwi Setyono, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menciptakan kemandirian, bukan ketergantungan. "Kami berkomitmen menciptakan masyarakat yang mandiri, termasuk dalam menghadapi masa pascatambang. Budidaya rumput laut memiliki potensi ekonomi yang besar karena masa panennya relatif singkat, sekitar 45 hari. Dalam satu kali panen, petani dapat menghasilkan rata-rata 1–2 ton rumput laut basah," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (20/8).
Dukungan yang diberikan tidak berhenti pada penyediaan drum, tali, dan alat pencetak. PAMA dan IMM menggandeng Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) untuk mendampingi warga secara menyeluruh. Pendampingan itu mencakup penguatan mental pemilik usaha, peningkatan keterampilan budidaya, hingga tata kelola bisnis dan strategi pemasaran produk olahan.
Nilai tambah menjadi kata kunci dalam program ini. Warga tidak hanya menjual rumput laut basah, tetapi juga mengolahnya menjadi beragam produk seperti Borneo Sea Bites, amplang, stik, hingga dodol rumput laut. Diversifikasi produk ini membuka pasar yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan dibanding menjual bahan mentah.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang, Syamsu Wardi, mengapresiasi kolaborasi ini. Ia berharap program terus berkembang, salah satunya dengan menghadirkan wisata edukasi rumput laut yang mengintegrasikan proses budidaya hingga pengolahan produk UMKM. Dengan begitu, dampak ekonomi tidak hanya dirasakan pembudidaya, tetapi juga pelaku usaha kuliner dan jasa di sekitar Tihi-Tihi.
Lurah Bontang Lestari, Muhammad Akbar Aditya, menilai konsistensi PAMA dan IMM dalam mendampingi masyarakat memberikan manfaat nyata. Menurutnya, sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan warga ini tidak hanya menggerakkan sektor ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan dan pemberdayaan sosial.
Bagi PAMA dan IMM, program ini adalah bagian dari strategi jangka panjang. Saat aktivitas pertambangan suatu saat berakhir, masyarakat Tihi-Tihi diharapkan sudah berdiri di atas kaki sendiri dengan sumber penghidupan yang berkelanjutan dari laut. Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana perusahaan ekstraktif menyiapkan warisan ekonomi yang lebih abadi dibanding sekadar lubang tambang yang tertutup.