LAMPUNG — Gunungan gabah berwarna keemasan terhampar di atas terpal plastik di areal persawahan Desa Srengseng, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Pemandangan ini bukan sekadar simbol panen raya, melainkan bukti nyata rantai serapan Bulog berjalan efektif. Para petani di wilayah ini mengaku senang karena hasil panennya langsung dibeli dengan harga yang layak, tidak jauh dari standar yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Subdivre Bulog Yogyakarta, [Nama Pejabat, jika ada di bahan — ganti dengan deskripsi jika tidak ada], menjelaskan bahwa pihaknya menargetkan penyerapan gabah dalam jumlah besar pada musim panen tahun ini. "Kami optimistis target serapan tercapai karena hasil panen di Gunungkidul cukup bagus. Kualitas gabahnya pun kering dan bersih, sehingga aman untuk disimpan dalam jangka waktu lama," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip, Senin (15/4).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang kerap terkendala kadar air tinggi, musim panen kali ini cuaca cukup bersahabat. Petani bisa menjemur gabah hingga benar-benar kering sebelum dijual ke Bulog. Hal ini menjadi nilai tambah karena Bulog tidak perlu melakukan proses pengeringan ulang yang memakan biaya dan waktu.
Dengan pasokan yang lancar, gudang-gudang Bulog di wilayah Yogyakarta kini terisi hingga kapasitas optimal. Stok yang melimpah ini menjadi bantalan penting bagi pemerintah daerah dalam menjaga inflasi. Jika harga beras di pasar bergejolak, Bulog bisa langsung menggelar operasi pasar (OP) dengan menyalurkan beras dari gudang-gudang tersebut.
Dampak paling terasa dari serapan ini adalah stabilitas harga di tingkat petani. Sebelum Bulog turun tangan, tengkulak kerap memainkan harga di bawah HPP saat panen raya tiba. Kini, kehadiran Bulog sebagai pembeli terakhir (last resort) membuat petani punya posisi tawar lebih kuat.
Di Desa Srengseng, para petani mengaku hasil panennya langsung diangkut ke unit pengolahan gabah (UPG) milik Bulog. Mereka tidak perlu khawatir gabahnya busuk atau harganya anjlok. "Alhamdulillah, hasil panen langsung dibeli. Harganya pun sesuai standar, jadi kami bisa menabung untuk modal musim tanam berikutnya," tutur salah seorang petani setempat.
Penyerapan yang agresif ini juga merupakan bagian dari instruksi pemerintah untuk memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Di tengah fenomena El Nino yang membuat musim tanam bergeser di beberapa daerah, Bulog dituntut bergerak cepat di wilayah-wilayah yang masih mengalami panen baik, seperti Gunungkidul.
Ke depan, Bulog berencana memperluas jangkauan penyerapan hingga ke tingkat kelompok tani. Targetnya, tidak ada petani yang kesulitan menjual gabahnya. Dengan begitu, ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada impor, tetapi juga pada kekuatan produksi dalam negeri yang diserap secara optimal oleh BUMN.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah menekan laju inflasi pangan. Dengan stok yang melimpah, Bulog memiliki ruang gerak luas untuk melakukan intervensi pasar kapan pun dibutuhkan, baik untuk menjaga harga di tingkat konsumen maupun menstabilkan harga di tingkat produsen.