Pertalite Bukan untuk Semua Mobil: Cek Rasio Kompresi Mesin Sebelum Isi BBM RON 90

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:07:31 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyoroti penyaluran Pertalite yang belum tepat sasaran karena dinikmati kelompok masyarakat berpendapatan tinggi.

LAMPUNG — Wacana pembatasan BBM bersubsidi kembali mencuat. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa penyaluran Pertalite selama ini belum tepat sasaran, dengan masyarakat golongan desil 9 dan 10—kelompok dengan tingkat kesejahteraan tertinggi—masih turut menikmati subsidi. Rencananya, pembatasan akan menyasar jenis kendaraan tertentu.

"Jangan pakai BMW, pakai Mercy, masa pakai minyak subsidi. Itu yang dimaksudkan oleh Pak Menteri (Keuangan)," ujar Bahlil, mengindikasikan bahwa mobil mewah menjadi target utama pembatasan.

Alphard Isi Pertalite: Salah Bahan Bakar yang Berisiko Rusak

Fenomena mobil mewah mengisi Pertalite bukan isapan jempol. Dalam catatan detikOto, Toyota Alphard generasi terbaru masih kerap terlihat mengisi BBM RON 90 di SPBU. Padahal, dengan pajak tahunan mencapai Rp 21 jutaan, kendaraan ini jelas bukan sasaran subsidi yang tepat.

Masalahnya bukan sekadar soal moralitas subsidi. Secara teknis, Alphard lansiran 2023 justru tidak direkomendasikan memakai Pertalite. Buku panduan manual mobil tersebut secara eksplisit menyebutkan kebutuhan bahan bakar minimal dengan RON 91 atau lebih tinggi. Memaksa mesin modern berkompresi tinggi mengonsumsi bensin beroktan rendah akan memicu fenomena knocking atau detonasi—ledakan tidak terkontrol yang dalam jangka panjang bisa merusak komponen mesin.

Rasio Kompresi: Kunci Menentukan BBM yang Tepat

Pertamina Patra Niaga sendiri mengklarifikasi bahwa Pertalite dengan kadar oktan 90 ini hanya cocok untuk kendaraan dengan rasio kompresi mesin 9:1 hingga 10:1. Di luar rentang tersebut, performa mesin akan menurun dan efisiensi pembakaran terganggu.

Bagi pemilik mobil, langkah paling aman adalah membuka buku manual kendaraan. Setiap pabrikan mencantumkan spesifikasi bahan bakar minimum yang direkomendasikan. Jangan berasumsi semua mobil bisa memakai Pertalite hanya karena label harganya murah.

Skema Pembatasan: Belum Ada Kepastian, tapi Arahnya Jelas

Hingga saat ini, mekanisme teknis pembatasan masih belum diumumkan secara resmi. Skema yang ada sekarang hanya membatasi pembelian maksimal 50 liter per hari per kendaraan melalui barcode MyPertamina. Namun, sistem ini dinilai belum efektif karena tidak membedakan jenis kendaraan.

Arah kebijakan ke depan kemungkinan akan mempertimbangkan tipe kendaraan sebagai variabel utama. Mobil dengan harga jual tinggi atau kapasitas mesin besar berpotensi dilarang membeli Pertalite, sekaligus menyelesaikan dua masalah sekaligus: menekan angka subsidi dan melindungi mesin kendaraan dari kerusakan akibat BBM yang tidak sesuai.

Yang Perlu Diperhatikan Pemilik Mobil

Sebelum kebijakan ini berlaku, ada beberapa catatan penting: - Cek spesifikasi mesin — pastikan rasio kompresi kendaraan Anda berada di rentang yang disarankan untuk Pertalite. - Jangan tergiur harga murah — selisih harga Pertalite dengan Pertamax memang tipis di beberapa daerah, tapi biaya perbaikan mesin akibat knocking jauh lebih mahal. - Siapkan alternatif — jika kendaraan Anda membutuhkan RON 91 ke atas, alokasikan anggaran untuk beralih ke Pertamax atau Pertamax Turbo.

Kebijakan pembatasan ini sejatinya menguntungkan dua pihak: negara yang bisa menghemat subsidi ratusan triliun, dan pemilik kendaraan yang mobilnya memang tidak seharusnya memakai Pertalite. Yang perlu diingat, BBM murah bukan berarti cocok untuk semua mesin—dan memaksakannya hanya akan berujung pada bengkel.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top