LAMPUNG — Kekebalan kelompok atau herd immunity pada anak usia sekolah jadi prioritas Pemerintah Kota Mataram. Melalui program BIAS yang digelar dua kali setahun, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat memastikan perlindungan kesehatan anak berjalan optimal, khususnya untuk mencegah penularan penyakit berbahaya seperti campak dan kanker leher rahim.
Kepala Dinkes Kota Mataram, Emirald Isfihan, menyampaikan kekhawatirannya jika masih ada orang tua yang menolak imunisasi karena terpapar informasi keliru. Penolakan massal, menurutnya, bisa memicu dampak domino pada sistem kesehatan masyarakat dan menghambat pembentukan kekebalan kelompok.
"BIAS ini sangat penting untuk memastikan kesehatan anak-anak kita. Saya berharap sekali, jangan ada resistensi, jangan ada hoaks yang mengatakan ini berbahaya, itu berbahaya," ujar Emirald saat dikonfirmasi pada Senin (10/8/2026).
Program imunisasi yang mulai berjalan di awal Agustus ini menyasar para siswa dari 202 sekolah dasar (SD) di wilayah Mataram. Kabid P2P Dinkes Kota Mataram, Dewi, merinci ada dua jenis vaksin yang diberikan pada tahap pertama ini, yaitu campak rubella (MR) dan vaksin HPV.
Pemberian imunisasi campak rubella ditujukan untuk seluruh murid kelas 1 SD atau anak usia sekitar 7 tahun. Sementara itu, vaksin HPV difokuskan untuk siswi perempuan kelas 5 SD dengan rentang usia 11 tahun.
"Target kami bukan hanya anak sekolah formal, tapi anak-anak yang putus sekolah usia 11 tahun juga tetap kami berikan vaksin HPV. Selain itu, bagi siswi kelas 6 dan kelas 9 SMP yang sebelumnya belum pernah mendapatkan HPV sama sekali, kami lakukan imunisasi," kata Dewi.
Vaksin HPV diberikan untuk mencegah kanker serviks yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan Indonesia. Menariknya, ke depan program ini berpeluang menjangkau anak laki-laki juga.
"Ke depannya memang ada kemungkinan anak laki-laki juga divaksin HPV. Namun, untuk saat ini kami masih menunggu juknis resmi dari pusat, sehingga fokus utama masih pada anak perempuan," imbuh Dewi.
Dewi menambahkan, pemberian vaksin HPV pada anak laki-laki akan memberikan perlindungan menyeluruh terhadap penularan virus HPV di masyarakat. Namun, keputusan tersebut masih menunggu arahan teknis resmi dari pemerintah pusat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Mataram, capaian imunisasi pada tahun 2025 sudah berada di atas 70 persen. Rinciannya, vaksin DT (Difteri Tetanus) untuk kelas 1 SD mencapai 72 persen, vaksin TD untuk kelas 2 SD sebanyak 73 persen, dan vaksin HPV untuk siswi SD-SMP menyentuh 79 persen.
Untuk tahun ini, Dinkes Mataram menargetkan imunisasi MR untuk 4.117 anak laki-laki dan 3.922 anak perempuan di kelas 1 SD. Sementara itu, target HPV untuk siswi kelas 5 SD mencapai 4.093 orang dan untuk remaja perempuan kelas 9 SMP sebanyak 3.758 orang.
Emirald menegaskan komitmennya untuk terus melakukan sosialisasi jika masih ada orang tua yang ragu. Pihaknya siap menghadirkan para ahli untuk menjelaskan manfaat dan keamanan vaksin secara langsung kepada masyarakat.
"Jangan ada penolakan. Kalau memang butuh sosialisasi lebih, nanti kami hadirkan ahlinya untuk mensosialisasikan lagi. Yakin saja terhadap program ini adalah program yang sangat baik untuk kesehatan dan masa depan anak-anak kita," ungkapnya.
Dengan capaian yang terus meningkat, orang tua diharapkan semakin percaya pada program imunisasi nasional. Perlindungan kesehatan anak sejak dini adalah investasi jangka panjang yang akan menjaga mereka tetap sehat dan aktif belajar di sekolah.