WAY KANAN — Capaian pendidikan warga Way Kanan masih tertinggal jauh dari rata-rata provinsi maupun nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah (RLS) di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan ini berada di bawah rata-rata Lampung yang mencapai 8,61 tahun pada tahun yang sama.
Jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang mencapai 9,07 tahun pada 2025, selisihnya cukup signifikan. Artinya, secara rata-rata, warga Way Kanan hanya menempuh pendidikan selama kurang lebih 7 tahun 11 bulan, atau berhenti di bangku kelas 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Dari 15 kabupaten dan kota di Lampung, posisi Way Kanan berada di urutan ke-11. Posisi ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah untuk mendorong partisipasi sekolah masyarakat, khususnya mereka yang sudah berusia produktif.
Berikut lima besar kabupaten/kota dengan rata-rata lama sekolah tertinggi di Lampung pada 2025:
Sebagai pembanding, Kabupaten Mesuji menjadi daerah dengan rata-rata lama sekolah terendah di Lampung, yakni hanya 7,3 tahun pada 2025.
Meski masih rendah, capaian pendidikan di Way Kanan menunjukkan tren positif. BPS mencatat RLS kabupaten ini meningkat 0,16 tahun atau sekitar 2,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 7,75 tahun.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, angka ini bertambah 0,21 tahun atau tumbuh 2,73 persen. Kenaikan ini mengindikasikan adanya tambahan warga yang menyelesaikan jenjang pendidikan lebih tinggi, meskipun lajunya masih lambat.
RLS merupakan indikator kunci untuk mengukur kualitas sumber daya manusia (SDM) di suatu daerah. Rendahnya angka ini berkorelasi erat dengan tingkat produktivitas ekonomi, pendapatan per kapita, dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi pemerintah daerah, data ini menjadi dasar untuk merancang program prioritas. Beberapa langkah yang umumnya ditempuh adalah penguatan program pendidikan kesetaraan (Paket A, B, dan C), perluasan akses sekolah menengah ke pelosok desa, serta pemberian bantuan biaya pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
Tanpa intervensi yang serius, kesenjangan kualitas SDM antara Way Kanan dengan kota-kota besar seperti Metro dan Bandar Lampung akan semakin melebar, dan berdampak pada daya saing tenaga kerja lokal di pasar kerja yang semakin kompetitif.