Bendungan Way Jepara dan Margatiga di Lampung Terancam Defisit 36 Juta Meter Kubik Air, Pemprov Minta Hujan Buatan ke BNPB

Penulis: Syaiful Bahri  •  Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:19:31 WIB
Bendungan Way Jepara dan Margatiga di Lampung berpotensi mengalami defisit air hingga 36 juta meter kubik hingga Desember 2026.

BANDAR LAMPUNG — Ancaman kekeringan di Lampung kian nyata. BBWSMS menghitung Bendungan Way Jepara akan kekurangan 15,42 juta meter kubik air, sedangkan Bendungan Margatiga defisit lebih besar, mencapai 21,22 juta meter kubik. Estimasi ini dibuat dengan asumsi tidak ada aliran masuk (inflow) hingga Desember 2026.

Kepala BBWSMS, Elroy Koyari, menyebut proyeksi ini disusun agar kapasitas tampungan bisa dipetakan sejak dini. "Kami menggunakan asumsi tidak ada inflow hingga Desember 2026, sehingga kemampuan masing-masing bendungan dalam memenuhi kebutuhan irigasi dan air baku dapat dipetakan sejak dini," ujarnya dalam paparan kondisi suplai debit air, Senin (3/8/2026) lalu.

Ribuan Hektare Lahan Terancam Gagal Tanam

Dampak defisit ini langsung berimbas pada sektor pertanian. Bendungan Way Jepara diprediksi hanya mampu mengairi 1.757 hektare lahan, jauh di bawah target luas tanam yang direncanakan. Sementara itu, Bendungan Margatiga hanya sanggup melayani 2.004 hektare dari total kebutuhan 3.600 hektare.

Artinya, hampir separuh area irigasi Margatiga berisiko kekurangan air. Kondisi ini memaksa petani di Lampung Timur untuk bersiap menghadapi potensi gagal tanam atau puso jika musim kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Pemprov Tunggu Lampu Hijau BNPB untuk Hujan Buatan

Menghadapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Lampung tidak tinggal diam. Proposal Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah ditandatangani Gubernur kini tengah dibahas di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kepala BPBD Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto, memastikan koordinasi dengan BMKG terus dilakukan.

"Proposal yang ditandatangani Pak Gubernur sudah sampai ke BNPB dan saat ini masih diproses. Kami masih berharap hujan buatan bisa segera dilaksanakan karena kondisi awan di Provinsi Lampung masih memungkinkan," kata Rudy, Jumat (7/8/2026).

Keberadaan awan menjadi kunci utama efektivitas OMC. Rudy menambahkan, selama masih ada titik-titik awan di langit Lampung, peluang untuk menaburkan garam (sodium chloride) agar hujan turun masih terbuka lebar.

Bantuan Tambahan: Mobil Tangki hingga Sumur Bor

Selain hujan buatan, pemerintah pusat juga menyiapkan bantuan fisik. BNPB akan mengirimkan mobil tangki air bersih yang nantinya didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota di Lampung. Bantuan ini datang langsung atas instruksi Presiden.

"Beberapa waktu ke depan kami juga akan mendapatkan bantuan mobil tangki air bersih dari BNPB dan Bapak Presiden yang nantinya akan disalurkan ke kabupaten/kota di Provinsi Lampung," jelas Rudy.

Dukungan lain berupa pembangunan sumur bor dan jaringan pipanisasi juga akan digelar di titik-titik krisis air. Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, BBWSMS mengusulkan pembangunan 749 unit sumur di wilayah rawan kekeringan serta memperketat pemantauan distribusi air irigasi.

Hampir Semua Kabupaten di Lampung Sudah Kekeringan

Data BPBD Lampung per 3 Agustus 2026 menunjukkan hampir seluruh kabupaten/kota telah melaporkan dampak musim kemarau. Bukan hanya kekeringan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat, terpantau melalui citra satelit NASA.

"Hampir seluruh daerah di Provinsi Lampung sudah melaporkan adanya kondisi kekeringan. Selain itu juga mulai muncul titik-titik kebakaran hutan dan lahan yang kami pantau melalui citra satelit NASA," ungkapnya.

Dengan proyeksi defisit yang sudah dihitung sejak dini, pemerintah berharap langkah mitigasi bisa berjalan lebih cepat. Namun, efektivitas hujan buatan tetap bergantung pada kondisi awan yang dinamis di atas wilayah Sumatra bagian selatan.

Reporter: Syaiful Bahri
Sumber: kupastuntas.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top