NTP Lampung Tembus 132,64, Daya Beli Petani Kopi dan Kakao Naik 2,11 Persen

Penulis: Fakhrudin Akbar  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 20:57:32 WIB
Nilai Tukar Petani Lampung tercatat 132,64 pada bulan ini, naik 2,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

BANDARLAMPUNG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) setempat berada di angka 132,64, meningkat 2,11 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi sinyal perbaikan daya beli petani karena kenaikan harga jual hasil panen lebih tinggi dibandingkan laju biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Lampung, Hermawan Prasetyo, menjelaskan bahwa Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 2,11 persen menjadi 172,46. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 2,09 persen menjadi 130,03.

"Kondisi ini mencerminkan adanya perbaikan daya beli petani di Provinsi Lampung. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 2,11 persen menjadi 172,46, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya mengalami kenaikan sebesar 2,09 persen menjadi 130,03," ujar Hermawan dalam paparan daring di Bandarlampung, Senin.

Perkebunan Rakyat Jadi Motor Utama Kenaikan NTP

Lonjakan daya beli paling signifikan dirasakan petani subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat, yang mencatatkan kenaikan 2,63 persen menjadi 166,61. Subsektor ini mencakup komoditas andalan Lampung seperti kopi dan kakao yang tengah berada dalam tren harga positif.

Subsektor Tanaman Pangan menyusul dengan kenaikan 2,45 persen menjadi 112,70. Adapun subsektor Perikanan meningkat 1,50 persen, dengan rincian perikanan budidaya naik signifikan 2,40 persen, sementara perikanan tangkap hanya naik tipis 0,21 persen.

Hortikultura dan Peternakan Justru Tertekan

Meski secara umum membaik, dua subsektor masih mengalami penurunan nilai tukar. Subsektor Hortikultura tercatat turun 0,78 persen menjadi 133,40, dan subsektor Peternakan menyusut 0,23 persen menjadi 99,06.

Sedikit naiknya beban biaya yang harus dibayar petani pada periode tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga kebutuhan pangan rumah tangga, seperti bawang merah, cabai merah, dan telur.

Sebagai informasi, NTP merupakan indikator utama untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan membandingkan indeks harga yang diterima dari hasil produksi dengan indeks harga yang dibayar untuk kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi.

Reporter: Fakhrudin Akbar
Sumber: lampung.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top