Petani di Hutan Lindung Batutegi Tanggamus Terapkan Agroforestri, Jadi Penyangga Ekonomi Saat Panen Kopi Turun

Penulis: Darmawan Iskandar  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45:01 WIB
Petani memetik buah kopi merah di kebun agroforestri kawasan Hutan Lindung Batutegi, Tanggamus, Lampung, Minggu (5/7/2026).

TANGGAMUS — Kabut pagi masih menyelimuti lereng Register 39, kawasan Batutegi, Kabupaten Tanggamus, Lampung, saat Jumino mulai memetik buah kopi merah di kebunnya. Di balik rutinitas itu, ia tengah membuktikan bahwa bertani di kawasan hutan lindung tidak harus merusak alam.

Musim ini, produksi kopi Jumino turun dari 6,5 kuintal pada panen sebelumnya. Penyebabnya sederhana: ia tidak memiliki modal untuk membeli pupuk. Namun, ia tidak panik. Di sela-sela barisan kopi, tanaman jengkol dan pala yang ditanamnya justru menjadi penyelamat ekonomi keluarga.

"Penyebab utamanya karena saya tidak sempat memupuk. Modalnya tidak ada. Tetapi untung ada tanaman jengkol dan pala yang sesekali dipanen untuk dijual," ujarnya, Sabtu (4/7/2026).

Agroforestri: Jaring Pengaman Saat Harga atau Panen Kopi Anjlok

Bagi Jumino, mencampur kopi dengan tanaman keras lain bukan sekadar memenuhi aturan pengelolaan hutan. Ia merasakan sendiri bagaimana keanekaragaman tanaman memberikan rasa aman yang tidak didapat jika hanya bergantung pada satu komoditas.

Kehidupan Jumino di Batutegi dimulai dari keterpaksaan. Di kampung halamannya, ia hanya buruh penyewa lahan dengan penghasilan tak cukup. "Di kampung saya orang enggak punya. Kerjanya nyewa lahan. Hasilnya kurang untuk kebutuhan keluarga. Akhirnya saya mencoba menggarap lahan di kawasan ini untuk mengubah nasib," kenangnya.

Kini, meski hidup sederhana, ia mengaku hasil kebun cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bersama istri, ia tinggal di kebun dan pulang ke kampung setiap dua hingga tiga pekan untuk menjenguk anak serta cucu.

Regenerasi Petani Muda: Dari Ragu Menjadi Mandiri Produksi Bibit

Semangat serupa mulai tumbuh di kalangan petani yang lebih muda. Wawan (36), yang menggarap lahan di Register 22 selama lebih dari satu dekade, awalnya ragu mengubah komposisi tanamannya. Ia khawatir gagal jika mengganti sebagian kopi dengan pohon buah-buahan yang belum ia kuasai perawatannya.

"Memang kami sudah mendapat edukasi dari YIARI, tapi saya masih ragu mengganti sebagian tanaman kopi dengan buah-buahan karena belum punya pengalaman," katanya.

Keraguan itu muncul karena lahan yang digarapnya berada dalam skema Perhutanan Sosial. Petani tidak bisa sembarangan mengubah lahan yang telah ditanami pohon konservasi sesuai aturan Hutan Kemasyarakatan (HKm). Meski begitu, ia mulai mencoba bertahap. Di lahan dua hektare yang digarap, Wawan menanam 30 batang alpukat, 30 batang durian, dan 15 batang pala.

Keberanian mencoba muncul karena petani tidak dibiarkan berjalan sendiri. Melalui pelatihan pembibitan dari YIARI, Wawan dan rekan-rekannya kini mampu memproduksi bibit tanaman secara mandiri. "Bersama teman-teman kami sudah diajari cara pembibitan oleh YIARI, jadi tidak perlu beli lagi," tuturnya.

Dari Rasa Waswas Menjadi Kesadaran Menjaga Kawasan

Ketua Gapoktan Sumber Makmur, Dayat, mengingat betul masa kelam sebelum izin Hutan Kemasyarakatan terbit. Sejak awal 2000 hingga 2016, para petani hidup dalam ketidakpastian. Setiap kali petugas Polisi Kehutanan atau Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) datang, mereka diliputi kekhawatiran.

"Waktu itu kami sadar lahan yang digarap masuk kawasan register. Tapi karena memang d..." ujarnya menggambarkan kondisi saat itu.

Kesadaran untuk tidak merusak hutan kini tumbuh seiring pendampingan yang diberikan. Jumino, misalnya, mengaku mulai belajar menggunakan pupuk sesuai anjuran dan merawat tanaman tanpa merusak kawasan. "Alhamdulillah ada peningkatan. Saya mengikuti apa yang disarankan, terutama soal pemupukan dan cara merawat tanaman. Mudah-mudahan hasilnya semakin baik," katanya.

Di kawasan yang menjadi habitat berbagai satwa liar, Jumino memilih hidup berdampingan. "Saya di sini numpang usaha. Mudah-mudahan saya tidak mengganggu mereka (satwa), mereka juga tidak mengganggu saya. Masing-masing mencari kehidupan," tuturnya.

Reporter: Darmawan Iskandar
Sumber: kupastuntas.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top