LAMPUNG — Wika Beton membuktikan bahwa penurunan pendapatan tak selalu berujung pada penurunan laba. Pada paruh pertama 2026, emiten berkode saham WTON ini membukukan laba bersih Rp4,74 miliar, naik dari Rp4,34 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian ini terjadi di tengah pendapatan usaha yang tercatat Rp1,48 triliun, atau menyusut 5,51 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp1,57 triliun. Kuncinya ada pada efisiensi: beban pokok pendapatan berhasil ditekan dari Rp1,48 triliun menjadi Rp1,38 triliun.
Manajemen menyebut pertumbuhan laba ditopang oleh implementasi sistem digital berbasis Enterprise Resource Planning (ERP) serta divestasi aset nonproduktif. Langkah ini disebut sebagai bagian dari penataan struktur keuangan untuk menjaga stabilitas bisnis jangka panjang.
"Kestabilan operasional dan keuangan yang tercapai saat ini menunjukkan langkah Wika Beton sudah cukup efektif, dengan fokus utama menjaga ritme pertumbuhan demi mewujudkan penciptaan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat," demikian pernyataan resmi perusahaan yang dikutip Kamis (30/7/2026).
Dari sisi struktur pendapatan, produk beton putar masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi 47,91 persen. Disusul produk non-putar sebesar 34,44 persen, segmen konstruksi 13,27 persen, dan jasa 4,37 persen.
Meski total liabilitas naik tipis 1,14 persen menjadi Rp2,63 triliun, ada perbaikan signifikan pada rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER). DER Wika Beton turun dari 81,75 persen menjadi 71,52 persen secara tahunan.
Perbaikan ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola utangnya semakin sehat. Sementara itu, posisi aset perusahaan mencapai Rp6,32 triliun per 30 Juni 2026, naik 0,42 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Dari sisi likuiditas, current ratio tercatat di level 130,95 persen. Artinya, kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya masih aman di atas standar minimum 100 persen.
Memasuki paruh kedua 2026, Wika Beton menyatakan akan memperkuat penerapan tata kelola berkelanjutan dan efisiensi rantai pasok. Langkah ini sejalan dengan peran barunya sebagai bagian dari ekosistem Danantara, di samping tetap menjadi pemasok material beton pracetak untuk proyek infrastruktur nasional dan regional Asia.
Perusahaan yang berdiri sejak 1981 ini memang dikenal sebagai salah satu produsen beton pracetak terbesar di Indonesia. Dengan struktur biaya yang lebih ramping dan dukungan ekosistem BUMN, target pertumbuhan di tengah ketatnya persaingan industri konstruksi diharapkan tetap terjaga hingga akhir tahun.