Perusahaan Pelototi Pemakaian AI Karyawan, Token Boros Buat Tugas Sepele Kena Batasi

Penulis: Khairul Anwar  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 08:56:31 WIB
Accenture membatasi penggunaan token AI setelah biaya meningkat tanpa hasil sepadan.

LAMPUNG — Fenomena "tokenmaxxing"—istilah untuk penggunaan token AI secara berlebihan—kini mulai dikerem. Setelah beberapa bulan lalu perusahaan-perusahaan teknologi justru mendorong karyawannya untuk memaksimalkan pemakaian AI, bahkan membuat papan peringkat internal, kini mereka dihadapkan pada kenyataan pahit: biaya melonjak tanpa hasil yang sepadan.

Accenture Batasi Token AI Setelah Karyawan Boros untuk Tugas Dasar

Accenture, perusahaan konsultan global, menjadi contoh terbaru dalam tren ini. Berdasarkan laporan 404 Media yang mengutip rekaman audio bocoran dari rapat internal, perusahaan tersebut berusaha menghentikan karyawannya yang menghabiskan jatah token AI untuk tugas-tugas sederhana seperti mengonversi file PDF menjadi slide presentasi.

Langkah pengetatan ini kontras dengan kebijakan sebelumnya. 404 Media melaporkan, belum lama ini Accenture sempat mengancam karyawan akan "kehilangan kesempatan promosi" jika tidak menggunakan AI.

Biaya AI Tak Terduga, CFO Mulai Tanya Nilai Investasi

Justice Kwak, pimpinan strategi AI agen di Accenture, mengungkapkan kekhawatiran dalam rapat internal tersebut. "Kita mencapai titik balik di mana AI menjadi material terhadap struktur biaya," ujar Kwak seperti dikutip 404 Media.

"Pengeluaran menjadi sangat tidak terprediksi; dan para pimpinan, terutama di level CFO, COO, dan CIO, masih mempertanyakan apakah mereka mendapatkan nilai dari apa yang kita keluarkan dalam konteks AI," tambahnya.

Era "Token Rationing" Menggantikan "Tokenmaxxing"

Fenomena ini menandai pergeseran dari era "tokenmaxxing" ke era "token rationing" atau penjatahan token. Industri AI kini berada di persimpangan: tidak bisa lagi hanya mengandalkan sensasi kebaruan, melainkan harus membuktikan nilai tambah secara nyata.

Biaya token yang tinggi mulai meragukan model bisnis AI. Hal ini terlihat dari fenomena yang disebut "AI selloff" dalam beberapa hari terakhir, yang menghantam bisnis yang bergantung pada AI, terutama produsen chip memori.

Bagi perusahaan teknologi di Indonesia, pelajaran dari Accenture ini patut dicermati. Mendorong adopsi AI tanpa kendali biaya dan pemantauan nilai guna berpotensi menggerus anggaran perusahaan secara sia-sia. Pertanyaan soal efisiensi dan Return on Investment (ROI) dari AI kini menjadi krusial.

Reporter: Khairul Anwar
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top